by

Prabowo Tahu Siapa Musuhnya, Strategi Senyap Prabowo Hadapi Musuh Besar

-Nasional-242 Views

Cadas.id – Opini ini bukanlah laporan investigasi dengan informasi intelijen tingkat tinggi. Semua yang tertulis di sini hanyalah tafsir dari data terbuka dan fakta yang bisa diakses siapa saja di internet. Namun, justru dari fakta sederhana itulah kita bisa membaca arah dan strategi politik seorang Prabowo Subianto.

Prabowo bukan sekadar politisi, ia adalah seorang pakar militer yang ditempa oleh strategi perang. Dunia pun mengakui kapasitasnya. Baru-baru ini, Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan memperlihatkan buku “Kepemimpinan Militer” karya Prabowo yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia—sebuah bentuk pengakuan dari salah satu negara adidaya.

Dalam ilmu perang, langkah pertama yang paling penting adalah mengenal musuh. Tidak hanya mengenal wajah, tapi juga memahami kekuatan, kelemahan, serta tujuan lawan. Bagi Prabowo, ini bukan lagi strategi yang harus dipelajari. Ia sudah menjadikannya insting, refleks, sebuah reaksi otomatis yang langsung bekerja setiap kali ia mencium adanya perlawanan.

Ingat aksi massa “Indonesia Gelap”? Ribuan demonstran dibiarkan masuk hingga ke Gedung DPR. Pagar jebol, massa berteriak, suasana tampak mencekam. Tapi anehnya, aparat tidak melakukan penahanan brutal. Semua “dibuka” begitu saja.

Hasilnya? Demo berakhir cepat, tanpa hasil berarti. Seolah energi massa hanya tersisa 24% dari kapasitas baterai, lalu padam dengan sendirinya. Prabowo tahu siapa yang ada di baliknya, tahu apa tujuan mereka, dan menyadari bahwa kekuatan mereka terbatas.

Contoh lain: rencana demo mahasiswa mengangkat isu kriminalisasi Tom Lembong. Sebelum aksi itu sempat menguat, Prabowo justru memberi kejutan: Tom Lembong mendapat abolisi. Alhasil, demo itu batal bahkan sebelum dimulai.

Di sinilah kelihaian Prabowo terlihat. Ia tidak menghadapi massa dengan kekerasan, melainkan dengan langkah antisipasi yang senyap namun tepat sasaran.

Lalu mengapa muncul isu “Prabowo hanya dua tahun berkuasa”?

Dua tahun ini bukan ancaman lengser. Bukan pula hasil kesepakatan politik gelap. Melainkan sebuah batas waktu pertarungan. Dua tahun adalah energi maksimal yang dimiliki para koruptor, mafia, oligarki, hingga politisi oportunis yang kini merasa terancam.

Prabowo, dengan DNA Kopassus yang menekankan operasi cepat dan senyap, memilih menghabisi musuh besarnya sejak awal. Tahun pertama dipakai untuk membuka front: memberantas mafia, menyita aset negara, menambal kebocoran APBN, dan menata ulang efisiensi anggaran. Tahun kedua diyakini akan menjadi puncak dari operasi ini: koruptor kakap dipreteli, jaringan mafia dilemahkan, aset negara kembali ke tangan rakyat.

Setelah itu? Jika Prabowo masih tegak berdiri, maka tamatlah riwayat para maling besar negeri ini.

Ada yang mencoba memunculkan nama Jokowi sebagai sosok di balik perlawanan terhadap Prabowo. Namun, opini ini berpandangan lain. Jokowi tidak punya niat, apalagi kekuatan, untuk berhadapan dengan Prabowo. Justru sebaliknya, hubungan keduanya dekat.

Nama Jokowi hanya dipakai sebagai tameng oleh para mafia politik, agar perlawanan mereka seolah bermotif politik, padahal hanyalah kepanikan maling yang merasa terancam.

Dua tahun ke depan bukanlah waktu yang singkat, tapi juga bukan waktu yang panjang. Jika strategi ini berhasil, maka sejarah akan mencatat masa pemerintahan Prabowo sebagai dua tahun paling menentukan arah bangsa.

Apakah Prabowo akan bertahan? Banyak yang yakin, In syaa Allah iya. Yang justru tidak akan bertahan adalah para koruptor dan mafia yang sudah terlalu lama menggerogoti negeri. Mari Kita bersama Sama menjaga Kutuhan NKRI (WN)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *